Minggu, 30 Maret 2014

Ba’da Ashar, melihat rumput-rumput sekitar rumah makin gondrong, membuat tangan jadi gemes untuk mencukurnya atau lebih pas bila dikatakan mencabutnya. Hari itu saya berprofesi sebagai jagal, jagal bagi rumput-rumput yang gak minta ijin terlebih dahulu untuk bermukim disekitar halaman rumah saya.  Sebenarnya saya tak tega dengan profesi itu, tapi karena si rumput ini tak mengindahkan segala nasehat bijak dan sopan yang sampaikan.  Akhirnya saya melakukan cara terakhir dengan intimidasi dan kekerasan.


Jebret.breet.., satu ..dua rumput tercerabut dengan akarnya.  Dalam hati kecil saya mendengar teriakan aduh dan minta tolong ,”jangaan..jangaan..bunuh saya,” ucapnya memelas.  Saya mencoba membela diri dan menyajikan beberapa argumen atas tindakan sadis itu.  Saya sudah beri’tikad baik mengajak kawanan rumput untuk berdiskusi, tapi kebebalan dan egoisme si rumput membuat kesabaran saya tanggal.  Sebagai tetangga yang baik, mestinya si rumput ini punya toleransi dan sopan santun.  Mestinya dia minta ijin terlebih dahulu kalau mau bermukim di sisi-sisi rumah saya.  Jujur, saya terganggu dengan keberadaan mereka, mohon jangan disamakan saya tidak toleran dengan rumput, itu tidak benar.  Saya telah menunjukkan kepadanya di mana tempat yang layak bagi dia bermukim.  Di pinggir sungai ada lahan yang nyaman dan empuk, selain itu tersedia makanan yang cukup dan teman-teman yang banyak.

Namun si rumput dekat rumah saya itupun protes dengan nada sedih, dia berujar sebenarnya dia ingin tinggal di situ, tapi karena kalah bersaing dan karena tidak ada program keluarga berencana di sana sehingga populasi rumput membludak.  Mendengar penjelasan itu saya menjadi bimbang, saya mulai bertanya-tanya, jangan-jangan apa yang disampaikannya benar. Tapi saya membela diri, saya balik menyerang si rumput dengan kata-kata tajam. Mestinya alasan itu disampaikan jauh-jauh hari sebelum pesta barbar pembantaian rumput hari ini.  Dengan mimik tak berdosa, saya berujar,”sudah terlambat brother, no sorry for you”.
Beberapa kawanan rumput mencaci saya membabi buta, mereka tak terima perlakuan kejam itu. “awas, awass..tunggu pembalasan kami..,”. dengan enteng saya menyahut sembari menunjukkan mimik mengejek : Masbolo (masalah buat lo ) broder ?”.  Entah mengapa tak berapa lama dari peristiwa itu saya merasa bete meladeni omelan rumput-rumput rese.  Melihat ada kelapa tua yang menggantung seksi, sayapun berencana untuk menyundulnya dengan tongkat bambu.  Saya tak perlu dagingnya, yang saya perlu hanya airnya yang gurih dan woakeh.  Mulailah saya melakukan sundulan pertama, sambil memasang kuda-kuda ala Ronaldo, gluk..gluk..aduh sundulan pertama gagal.  Saya lanjutkan sundulan kedua, ketiga hingga sampailah pada sundulan ke enam.  Ternyata sundulan itu sukses dan jatuhlah si kelapa. Kelapa itu melesat cepat seperti ada yang mengomando..tuwinggg..naudzubillah ternyata kelapa itu pas mengenai jidat saya dan membuat saya terjungkal hilang keseimbangan.


Saya dengar suara ejekan rumput-rumput sambil terbahak terpingkal-pingkal,” rasain lo, mampus lo, emang enak kena batunya,” mereka sangat girang, bahkan lebih memuakkannya lagi, sambil bersenandung nenenene..whuee mereka menunggingkan pantat-pantat bau mereka ke arah saya sebagai tanda penghinaan. Sambil menhan sakit di jidat, luka di tangan dan perih di paha saya berjalan tergopoh-gopoh, kepala saya pusing sepertinya akan semaput.  Allahumma, saya baru sadar ternyata hati saya kotor, tak bersih dan sombong, saya telah menghina salah satu makhluk Allah bernama rumput.  Sembari mengalah dan minta ma’af saya meninggalkan rumput-rumput itu diiringi tatapan iba mereka.

#belajarmenghargaidenganbijak

0 komentar:

Posting Komentar