Jumat, 31 Januari 2014

Hemm, ingat salah satu penggalan adegan di film kungfu hustle, seorang warga yang sekarat dengan dikelilingi warga lainnya mengucapkan terima kasih kepada pendekar suami istri yang telah menolongnya. Namun seorang warga perempuan mengutarakan pendapat yang kurang nyaman, “Andai kalian berdua menolong lebih awal, tentu kejadiannya tak seperti ini,” tuturnya kecewa. Mendengar itu, pendekar suami dengan nada sedih merespon, “Sebenarnya kami sudah bersumpah untuk tidak lagi bertarung, kami ingin menjadi warga biasa saja, tapi hari ini kami terpaksa melanggar sumpah kami.”


Gelagat kurang sip itu langsung direspon cerdas oleh warga yang sekarat tadi, sambil memaksa bangun dari pembaringan, dia menarik baju pendekar suami sembari berujar,”Kisanak, anda adalah pendekar besar, anda memiliki kemampuan yang besar, kemampuan itulah yang mengundang datangnya tanggung jawab besar.”  Pendekar suami istri itu saling bertatapan, mereka seolah dibangunkan dari tidur lama, mereka tak menyangka dari seorang sekarat ini mereka diingatkan, bahwa kesaktian kungfu mereka amat berguna untuk melindungi warga lemah dari serangan gangster kapak yang didukung pendekar kodok. Akhirnya kedua pendekar itu mengazamkan diri untuk menolong warga dan siap menanggung ragam resiko yang akan diterimanya.

Terkadang bahkan mungkin bisa jadi sering, saya atau bahkan anda merasa kurang sreg berperan dalam perjuangan karena ragam kekurangan yang dimiliki. Merasa bahwa andil kecil yang kita berikan tak bermakna dalam penggemukan kualitas perjuangan.  Sehingga kita lebih memilih untuk tidak mengoptimalkan kemampuan dan pada waktu bersamaan kita memilih meraksasakan keraguan yang menyuburkan kemalasan.
Keraguan sering membuat seseorang lupa jati dirinya, kelupaan ini berujung pada lahirnya sikap yang keliru dan munculnya aktivitas yang tak seharusnya dilaksanakan. Bisa jadi dalam organisasi kita sering menemukan atau bahkan menyimak penuturan bernada masygul seperti, “Sebaiknya yang memegang amanah itu adalah anda, karena anda punya banyak kelebihan, sedangkan saya tak ada yang bisa dibanggakan.” Atau pernyataan seperti ,” Jangan saya deh, saya kurang pantas, sebaiknya anda saja yang menjalankannya.” Ada lagi yang lebih irasional pernyataannya,” Wah anda keliru memilih saya, jangan deh, nanti malah jadi kacau.”

Kalau hal itu dilontarkan masyarakat awam, mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau seorang hamlud dakwah yang menyatakannya, wah perlu ditanya tuh komitmennya sebagai bagian dari jama’ah dakwah. Perlu dipahami, bahwa sebuah jama’ah dakwah adalah sebuah wadah yang berusaha membuat baik orang-orang yang ada di dalamnya, dari jama’ah ini disebarlah penjual-penjual baik ke masyarakat, agar masyarakat sudi dan mau mengkonsumsinya sehingga turut menjadi baik. Oleh karena itu, sebelum bergabung dengan jama’ah dakwah perlu dicari tahu adalah apakah jama’ah itu menuntun kita menjadi baik atau sebaliknya, kalau kita sudah yakin dan mampu membuktikan bahwa kita akan semakin baik dengan jama’ah itu maka silahkan buruan gabung.  Namun mesti diingat, kriteria baik atau tidaknya harus berasal dari keimanan kita loh, jangan berdasarkan hawa nafsu.

Perlu di pahami, bahwa tatkala kita menyatakan diri sebagai seorang muslim, sejatinya kita adalah pendekar, kemusliman kita itu mengundang adanya tanggung jawab, yakni tanggung jawab dakwah.  Dakwah untuk diri kita, keluarga kita, lingkungan dan masyarakat kita, juga dakwah kepada penguasa. 

Dalam dunia persilatan, seorang pendekar biasanya dicirikan dari kemampuan dominan yang dia miliki, misal : Pendekar kapak 212, artinya si pendekar sakti dalam menggunakan kapak bermerk 212, pendekar pedang chung ming : artinya si pendekar mahir dalam menggunakan pedang, pendekar gundul sakti : artinya si pendekar piawai menggunakan kepala gundulnya untuk bertarung, dll.  Nah, sebagai pendekar dakwah kita mesti memahami value dan dominan kita.  Kalau kita memang memiliki kemampuan jadi orator, maka jadilah pendekar orator.  Kalo memang kita punya kelebihan di kontak jadilah Pendekar kontak, kalo memang kita jago diurusan teknis acara : jadilah pendekar spesifikasi teknis acara, kalo memang kita jagonya memijit, ya jadilah pendekar pemijit : misal menjadi seksi pemijit bagi peserta dauroh. Misal juga kita pandai menulis, maka jadilah pendekar penulis, intinya kita adalah pendekar, namun tatkala kita bergabung dalam jama’ah dakwah tentu yang akan nampak bukan lagi kemampuan / skil personal kita, tapi yang terlihat adalah skil dan kemampuan jama’ah, dimana kita harus saling bersinergi dalam mengemban perjuangan.

Karena berada dalam jama’ah wajar bila kemudian jama’ah berusaha untuk menstandarisasi pendekar-pendekar yang bergabung di dalamnya melalui sistem di jama’ah tersebut.  Mungkin boleh juga jama’ah dakwah diserupakan seperti padepokan silat.  Yang mana tatkala orang melihat aktivitasnya, oran tidak lagi melihat dia sebagai personal, tapi dia sebagai bagian dari padepokan silat tertentu.  Misalnya Setia Hati, Satria Nusantra, Doju Khilafah, Padepokan Doyan Ngaji, dll.

Dari tulisann ini, saya hanya ingin mengingatkan diri saya, bahwa kemampuan/kelebihan mengundang tanggung jawab. Ketika anda pandai bahasa arab, maka gunakanlah kemampuan anda untuk mengajari mereka yang belum bisa bahasa arab, dan gunakan kemampuan itu juga untuk menyampaikan dakwah ke masyarakat.  Ketika anda memiliki kemampuan dana yang cukup, gunakan kelebihan dana itu untuk dakwah, ketika anda memiliki banyak waktu luang, gunakan waktu itu untuk dakwah, ketika anda punya tenaga yang kuat : gunakan tenaga itu untuk dakwah (misal jadi seksi keamanan acara), ketika anda punya rumah atau gedung yang luas : gunakan itu untuk dakwah, ketika punya kendaraan atau alat elektronik yang canggih : gunakan juga buat dakwah.  Sekali lagi karena kita adalah muslim, dan kemusliman kita mengundang tanggung jawab, tanggung jawab ini adalah melakukan amal dakwah, amal itulah yang akan menjadi bekal kita kelak di akherat. Perlu diingat juga dengan dakwah, jangan juga kita mengabaikan hak dan kewajiban kita dalam urusan dunia !

Semoga kita senantiasa saling menguatkan, bukan berlomba-lomba saling melemahkan !




0 komentar:

Posting Komentar