Hemm, ingat salah satu penggalan adegan
di film kungfu hustle, seorang warga yang sekarat dengan dikelilingi warga
lainnya mengucapkan terima kasih kepada pendekar suami istri yang telah
menolongnya. Namun seorang warga perempuan mengutarakan pendapat yang kurang nyaman,
“Andai kalian berdua menolong lebih awal, tentu kejadiannya tak seperti ini,”
tuturnya kecewa. Mendengar itu, pendekar suami dengan nada sedih merespon, “Sebenarnya
kami sudah bersumpah untuk tidak lagi bertarung, kami ingin menjadi warga biasa
saja, tapi hari ini kami terpaksa melanggar sumpah kami.”
Gelagat kurang sip itu langsung
direspon cerdas oleh warga yang sekarat tadi, sambil memaksa bangun dari
pembaringan, dia menarik baju pendekar suami sembari berujar,”Kisanak, anda
adalah pendekar besar, anda memiliki kemampuan yang besar, kemampuan itulah
yang mengundang datangnya tanggung jawab besar.” Pendekar suami istri itu saling bertatapan,
mereka seolah dibangunkan dari tidur lama, mereka tak menyangka dari seorang
sekarat ini mereka diingatkan, bahwa kesaktian kungfu mereka amat berguna untuk
melindungi warga lemah dari serangan gangster kapak yang didukung pendekar
kodok. Akhirnya kedua pendekar itu mengazamkan diri untuk menolong warga dan
siap menanggung ragam resiko yang akan diterimanya.
Terkadang bahkan mungkin bisa
jadi sering, saya atau bahkan anda merasa kurang sreg berperan dalam perjuangan
karena ragam kekurangan yang dimiliki. Merasa bahwa andil kecil yang kita
berikan tak bermakna dalam penggemukan kualitas perjuangan. Sehingga kita lebih memilih untuk tidak
mengoptimalkan kemampuan dan pada waktu bersamaan kita memilih meraksasakan
keraguan yang menyuburkan kemalasan.
Keraguan sering membuat seseorang
lupa jati dirinya, kelupaan ini berujung pada lahirnya sikap yang keliru dan
munculnya aktivitas yang tak seharusnya dilaksanakan. Bisa jadi dalam
organisasi kita sering menemukan atau bahkan menyimak penuturan bernada masygul
seperti, “Sebaiknya yang memegang amanah itu adalah anda, karena anda punya
banyak kelebihan, sedangkan saya tak ada yang bisa dibanggakan.” Atau
pernyataan seperti ,” Jangan saya deh, saya kurang pantas, sebaiknya anda saja
yang menjalankannya.” Ada lagi yang lebih irasional pernyataannya,” Wah anda
keliru memilih saya, jangan deh, nanti malah jadi kacau.”
Kalau hal itu dilontarkan
masyarakat awam, mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau seorang hamlud dakwah yang
menyatakannya, wah perlu ditanya tuh komitmennya sebagai bagian dari jama’ah
dakwah. Perlu dipahami, bahwa sebuah jama’ah dakwah adalah sebuah wadah yang
berusaha membuat baik orang-orang yang ada di dalamnya, dari jama’ah ini
disebarlah penjual-penjual baik ke masyarakat, agar masyarakat sudi dan mau
mengkonsumsinya sehingga turut menjadi baik. Oleh karena itu, sebelum bergabung
dengan jama’ah dakwah perlu dicari tahu adalah apakah jama’ah itu menuntun kita
menjadi baik atau sebaliknya, kalau kita sudah yakin dan mampu membuktikan
bahwa kita akan semakin baik dengan jama’ah itu maka silahkan buruan
gabung. Namun mesti diingat, kriteria
baik atau tidaknya harus berasal dari keimanan kita loh, jangan berdasarkan hawa
nafsu.
Perlu di pahami, bahwa tatkala
kita menyatakan diri sebagai seorang muslim, sejatinya kita adalah pendekar, kemusliman
kita itu mengundang adanya tanggung jawab, yakni tanggung jawab dakwah. Dakwah untuk diri kita, keluarga kita,
lingkungan dan masyarakat kita, juga dakwah kepada penguasa.
Dalam dunia persilatan, seorang
pendekar biasanya dicirikan dari kemampuan dominan yang dia miliki, misal :
Pendekar kapak 212, artinya si pendekar sakti dalam menggunakan kapak bermerk
212, pendekar pedang chung ming : artinya si pendekar mahir dalam menggunakan
pedang, pendekar gundul sakti : artinya si pendekar piawai menggunakan kepala
gundulnya untuk bertarung, dll. Nah,
sebagai pendekar dakwah kita mesti memahami value dan dominan kita. Kalau kita memang memiliki kemampuan jadi
orator, maka jadilah pendekar orator.
Kalo memang kita punya kelebihan di kontak jadilah Pendekar kontak, kalo
memang kita jago diurusan teknis acara : jadilah pendekar spesifikasi teknis
acara, kalo memang kita jagonya memijit, ya jadilah pendekar pemijit : misal
menjadi seksi pemijit bagi peserta dauroh. Misal juga kita pandai menulis, maka
jadilah pendekar penulis, intinya kita adalah pendekar, namun tatkala kita
bergabung dalam jama’ah dakwah tentu yang akan nampak bukan lagi kemampuan /
skil personal kita, tapi yang terlihat adalah skil dan kemampuan jama’ah,
dimana kita harus saling bersinergi dalam mengemban perjuangan.
Karena berada dalam jama’ah wajar
bila kemudian jama’ah berusaha untuk menstandarisasi pendekar-pendekar yang
bergabung di dalamnya melalui sistem di jama’ah tersebut. Mungkin boleh juga jama’ah dakwah diserupakan
seperti padepokan silat. Yang mana
tatkala orang melihat aktivitasnya, oran tidak lagi melihat dia sebagai
personal, tapi dia sebagai bagian dari padepokan silat tertentu. Misalnya Setia Hati, Satria Nusantra, Doju
Khilafah, Padepokan Doyan Ngaji, dll.
Dari tulisann ini, saya hanya
ingin mengingatkan diri saya, bahwa kemampuan/kelebihan mengundang tanggung
jawab. Ketika anda pandai bahasa arab, maka gunakanlah kemampuan anda untuk
mengajari mereka yang belum bisa bahasa arab, dan gunakan kemampuan itu juga
untuk menyampaikan dakwah ke masyarakat.
Ketika anda memiliki kemampuan dana yang cukup, gunakan kelebihan dana
itu untuk dakwah, ketika anda memiliki banyak waktu luang, gunakan waktu itu
untuk dakwah, ketika anda punya tenaga yang kuat : gunakan tenaga itu untuk
dakwah (misal jadi seksi keamanan acara), ketika anda punya rumah atau gedung
yang luas : gunakan itu untuk dakwah, ketika punya kendaraan atau alat
elektronik yang canggih : gunakan juga buat dakwah. Sekali lagi karena kita adalah muslim, dan
kemusliman kita mengundang tanggung jawab, tanggung jawab ini adalah melakukan
amal dakwah, amal itulah yang akan menjadi bekal kita kelak di akherat. Perlu
diingat juga dengan dakwah, jangan juga kita mengabaikan hak dan kewajiban kita
dalam urusan dunia !
Semoga kita senantiasa saling
menguatkan, bukan berlomba-lomba saling melemahkan !

0 komentar:
Posting Komentar