Jumat, 19 Desember 2014

Terik bercampur mendung, angin sepoi-sepoi, pematang yang becek, dan padi-padi muda yang mulai tumbuh.  Menggerakkan kaki menuju ke tengah sawah.  Mendatangi saluran air yang meliuk sejak lama, airnya meluber ke mana-mana.  Membasahi bot hitam saya.  Jeprat-jepret.   Saya mengabadikan saluran yang bermuara ke sebuah sungai itu, sungai dengan kiri kanannya ditumbuhi daun nipah.  Saya menonaktifkan blitz kamera poket saya.  Berusaha mengambil tampilan objek yang menggambarkan informasi yang saya perlukan. Photografi otodidak di sawah akhirnya menghilangkan kesuntukan saya siang itu.

Sepintas dari jauh, saya melihat seorang lakilaki mengenakan kaos orange lengan panjang sedang sibuk memainkan tajak.  Mata saya tak lepas dari sosok itu.  Pikiran saya menduga-duga.  Berdasarkan apa yang saya dapat dari penglihatan saya.  Saya menyimpulkan bahwa petani itu adalah orang yang saya kenal.  Orang yang sering saya temui di sawah itu.  Rupanya saya keliru.
Tinggi badan, besar fisik, sepintas mirip.  Tau-taunya memang beliau adalah adik kandung petani yang saya maksud.  Mengetahui kedatangan saya, beliau menghentikan aktivitasnya, dan menanyakan apa yang sedang saya lakukan.  Saya pun menjelaskan, bahwa saya sedang menelusuri saluran air yang rencananya akan dimasukkan dalam program pembangunan saluran tersier yang dibiayai pemerintah.  Mendengar rencana tersebut, beliau sangat setuju.  Beliau mengajak saya ke tempat teduh.  Saya mengikuti langkah beliau menuju tebing yang ditumbuhi pohon rambutan.  Beliau mengeluhkan tentang keong Mas yang mengganggu padi-padinya. “Padahal sudah di semprot Pak, pakai obat keong Mas, tapi kenapa seperti obatnya tidak bereaksi,” ucap beliau mengisahkan.  Sebagai petugas lapangan sayapun menyampaikan bahwa penggunaan pestisida dalam mengendalikan atau membasmi organisme pengganggu tanaman seperti keong Mas adalah langkah terakhir.  Dalam mengendalikan keong Mas, misalnya menggunakan Snail Down, air di petak sawah harus macak-macam, pintu-pintu maasuk dan keluarnya air harus ditutup, kemudian air disemprot sesuai dengan dosis yang dianjurkan pada kemasan.

Beliau mengiyakan apa yang saya sampaikan.  Karena pada saat mengaplikasikan pestisida, beliau tidak menutup pintu keluar-masuk air, sehingga pestisida yang diaplikasikan tersebut hanyut terbawa air.


@wahyuddinn

0 komentar:

Posting Komentar