Senin, 20 Januari 2014



Ketika mendengar politik tak sedikit masyarakat dewasa ini yang tabu, jijik, benci bahkan berusaha menjauhinya.  Sebagiannya senang hanya berbagi informasi atau sekedar membicarakan berita politik terbaru, tanpa diikuti sikap politik apapun.  Sikap demikian tentu tidak lahir dengan sendirinya. Peranan media massa memberi andil dalam transfer berita politik kekinian yang ternyata inheren dengan realitas politik di sekitar mereka, dari pemilihan kepala desa, pemilihan bupati, pemilihan anggota dewan tak jarang mempertontonkan dagelan politik yang tak kalah seru dengan apa yang disajikan media tentang keadaan serupa di daerah lain maupun politik tingkat nasional. Fenomena politik uang, politik serangan fajar, politik pilih kasih, politik maki-hasut, politik lipstik bahkan politik teror mulai dianggap lazim dalam tataran realitas, meskipun sebenarnya dalam kacamata aturan perkara tersebut keliru dan pelakunya bisa dipidanakan dan dihukum.

Sebenarnya, telah dibentuk tim independen maupun badan pengawas legal yang tugasnya  memonitor, mengawasi, menerima aduan, termasuk memproses terjadinya kecurangan setiap dilaksanakannya pemilihan penguasa maupun wakil rakyat hanya saja sebagian pihak itu tak jarang berpihak, walaupun memang oknum jujur dan berintegras juga ada namun kadang peran mereka terhijab, terwarnai bahkan sengaja dilemahkan oleh kekuatan kepentingan yang menghendaki calon tertentu menang.  Wajah tim independen dan badan pengawas legal demikian turut menjadi alasan logis beberapa pihak menjauh dari politik,
Apalagi, temuan kecurangan dalam Pilkada yang ditindaklanjuti melalui sidang di Mahkamah Konstitusi, meski sering berakhir dengan keputusan yang dianggap adil, namun keputusan lainnya ternyata penuh kecurangan,  tertangkapnya ketua Mahkamah Agung (yang juga politisi) karena kasus penyuapan terkait Pilkada membelalakan mata rakyat betapa bejatnya prilaku pihak yang harusnya memberi keadilan.

Sementara parpol yang diharapkan melahirkan politisi bersih, pengayom dan berintegritas sebagai calon-calon pemimpin nasional, justru lebih mempertontonkan pembagusan citra dan pensejahteraan kader dan parpol semata, rakyat lebih aktif didekati menjelang pemilu, pilkada maupun pilleg saja,  ragam cara dilakukan agar rakyat memberi dukungan suara, atribut dan janji manis ditebar kemana-mana, setelah kursi diraih pengembalian modal politik dan balas jasa pada investor sering didahulukan, sedangkan pelayanan terhadap rakyat dikemudiankan. Dengan kondisi ini, wajar bila tingkat persepsi masyarakat terhadap parpol rendah.

Realitas politik yang legam, prilaku politisi yang lengkung, parpol yang malfungsi serta realitas panggung pemilihan penguasa dan wakil rakyat yang kibul dan boros disinyalir menjadi alasan ketabuan, kejijikan, bahkan kebencian politik makin tambun di negeri ini.  Tingginya angka golput dalam pilkada, pilleg, maupun pemilu hendaknya dipahami sebagai bentuk ketidakpuasan rakyat yang harus segera dituntaskan.
Makna politik yang disempitkan sekedar urusan meraih kekuasaan, menjadikan partisipasi masyarakat dalam politik hanya bersifat temporal / musiman saat “pesta politik” saja. Apalagi penghalalan ragam cara yang diajarkan sistem demokrasi ala machiaveli kian menampilkan sosok politik  bengis, culas, mahal dan layak dijauhi.  Hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri yang dapat survive.  Melalui sistem ini andil rakyat dibatasi dalam politik. 

Dalam islam politik bermakna pengaturan berbagai urusan rakyat. Artinya perkara apapun yang berkaitan dengan urusan rakyat maka aktifitas pengurusannya disebut politik. Pemilihan penguasa perlu politik, pengaturan pendidikan perlu politik, pengaturan ekonomi perlu politik, pengaturan keamanan perlu politik, pengurusan kesehatan perlu politik, pengaturan sosial-kemasyarakatan perlu politik, dll. Makna ini menunjukkan, siapapun berhak terlibat dalam aktivitas politik, bahkan aktifitas ini bisa dilakukan kapan saja, tak kenal musim sebagaimana sistem politik demokrasi. 

Tahun 2014 dicanangkan sebagai tahun politik.  Dari paparan diatas sikap apatis dan apriori  terhadap politik, serta pilihan golput, merupakan buah kegalauan politik rakyat akibat realitas politik yang tak indah. Selain karena prilaku politisi menyimpang ternyata sistem politik yang barbar, culas dan mahal turut berperan membangun ketidak indahan itu. Kondisi ini tak boleh dibiarkan, parpol sebagai pabrik politisi bernas harus difungsikan dengan cara dan sistem yang benar, politisi dan parpol harus aktif melakukan penyadaran politik rakyat dengan makna politik sebenarnya sedangkan sistem politik demokrasi ala machiaveli yang terbukti buruk dan merugikan harus ditinggalkan diganti dengan sistem politik islam yang mengedepankan pengayoman terhadap urusan rakyat (baik muslim maupun non muslim).  Dengan cara ini optimisme politik rakyat akan menguat, partisipasi politik kian berbilang, sehingga merubah tahun galau politik menjadi tahun bersemangat politik. Semoga !

0 komentar:

Posting Komentar