Selasa, 21 Januari 2014

Serius dalam benak kita sering tergambar sebagai sesuatu yang monoton, kaku, perlu perhatian ekstra, membikin dahi mengkerut-berkerut, cendrung merontokkan rambut membotakkan kepala, menyita banyak waktu dan berbiaya tinggi, bahkan tak jarang demi serius orang rela gak maem gak minum, bahkan rela duduk berjam-jam demi sesuatu yang ingin diraih sebagai harga dari serius.  Dari sudut pandang itu tak sedikit muncul klan atau group-group manusia yang menamakan dirinya manser alias manusia anti serius. Hanya saja dalam kesempatan ini saya ingin berbagi tentang serius yang kemudian menjadi karakter dari mereka-mereka yang sering diirikan manusia.  Orang-orang yang menyegaja  menampak “ini loh gue” bukan dengan lisan berbuih berbusa, tapi dengan karya, dengan sesuatu yang nyata tak mengada-ada, yang mengundang manusia mendekat dengan sadar-sesadarnya, mendekat untuk menikmati aroma kebetahan yang memancar dari pikir, tutur dan olah sikap mereka.  Aroma yang memancar dari jasad-jasad yang digerakkan oleh ruh yang terus didewasakan oleh mabda yang diwariskan Rasulullah SAW.




Orang yang serius akan memiliki sesuatu yang khas yang membedakannya dengan orang yang tidak serius.  Orang yang serius dan yang tidak serius mungkin bisa jadi memiliki motivasi dan tujuan yang sama.  Sebagai contoh misal.  Ingin jadi penulis yang hebat.  Keduanya bisa jadi mengetahui bahwa tujuan tanpa amal adalah omdo, nato, napo, dsb. Orang serius dan tidak pasti akan menjalani amal yang sama dalam arti  sama-sama menyiapkan amunisi agar sakti (membaca, bertanya, dsb),merekapun juga akan mulai melesakkan amunisi itu dengan menulis dan masing-masing akan beroleh hasil aktivitas itu.    Dari aktivitas itu akan muncul respon (respon internal dan eksternal).  Respon itu bila kita definisikan hanya ada 2 : like or dislike.  Saya mencoba mengibaratkan respon ini seperti angin, yang kadang hanya berhembus sejenak lalu hilang, hanya berhembus datar-datar saja dan lama, terkadang pula angin itu menjelma menjadi topan dan badai.  Sementara motivasi ibarat sebuah pondasi yang menyangga sebuah bangunan. Bangunan tersebut bisa diumpakan sebagai tujuan. Terwujudnya sebuah bangunan dikategorikan sebagai berhasil dan tidak selesai atau bahkan rubuhnya bangunan dikategorikan sebagai gagal.  Sering kita terpengaruh oleh respon eksternal dibandingkan respon internal. Terutama pada respon-respon dislike yang seringkali didefenisikan negatif, ibarat tinju respon dislike itu seperti pukulan yang berganti bertubi mendarat diwajah,telinga, dada, iga, lambung, bahkan bisa jadi ulu hati yang membuat kita K.O dalam wujud pingsan atau koma di ICU. Kenapa ini bisa terjadi, menurut hemat saya karna kita mengijinkan gagal datang bertamu dalam benak dan qolbu kita, kita persilahkan dia masuk, kita suruh duduk di kursi kita yang empuk, kita suguhi teh hangat dan pisang goring keju yang gurih, kita suruh dia istirahat di kamar pribadi kita, bahkan kita rela mengipasinya, memijit-mijitnya hingga dia tertidur pulas keenakan.  Singkatnya, kita memperlakukan gagal sebagai sesuatu yang istimewa, bahkan kita merasa nyaman berakrab-akrab dengannya.

Dari sinilah saya mencekoki pikiran saya yang masih sangat banyak ruang kosongnya, yang masih bisa diisi benda-benda berharga bermakna bernama bisa bin positif. Saya terus gemakan Berhasil, berhasil dan berhasil!!! Jujur,  Saya sering manggut-manggut ketika ada suara-suara aneh mampir ditelinga saya, terkadang dia nyaring berteriak di dada dan kepala saya, dia meminta pembenaran dan persetujuan saya, dia serius dan bekerja mengharap “iya” terlontar dari lisan, akal dan perbuatan saya. Bahwa untuk meraih dunia lupain akherat, pengen akherat dunia gak bisa ngikut. Saya terdampar di pulau fakta yang ditumbuhi pohon-pohon berbuah ranum yang menyejukkan mata dan memanjakan selera.  Ketika saya ingin mengambilnya, ternyata saya kalah cepat, saya diduluin orang, dalam waktu singkat dia menyantap buah itu dengan lahap.  Saya anggap buah itu bukan rezky saya, lalu saya beralih ke pohon lain ketika saya ingin memetik buahnya yang dekat tiba-tiba saya didorong seseorang saya terjatuh, dan dengan sigap orang itu melompat meraih buah tersebut, karena kejadian seperti itu berulang saya lelah dan memilih duduk menyandarkan diri di salah satu batang pohon yang paling tua, sambil memandangi orang-orang itu berebut mengumpulkan buah-buah indah di bakul-bakul mereka.  Ada yang melompat, ada yang menggunakan galah, ada yang memanjatnya, ada yang menggoyang pohonnya demi mendapatkan buah yang sayapun sangat menginginkannya.  Hingga waktu berlarut dan saya baru tersadar ketika ternyata buah indah itu tinggal sedikit dan hanya menggantung di dahan-dahan dekat pucuk yang susah saya jangkau.

Dalam keadaan putus asa saya menundukkan kepala dan terus mengutuki diri menyalahkan diri hingga saya semakin benci dengan keadaan.  Tiba-tiba tanpa saya sadari, ada seorang muda menepuk bahu saya, mengajak saya berkenalan dengan tutur yang sopan dan penampilan bersahaja.  Dia menanyakan duka saya, dengan sabar dia mendengarkan saya bertutur, sesekali dia tersenyum, dan mencoba larut dalam suasana hati saya. Saya lega karna ada teman berbagi.  Lalu dia berkata, “ sahabat, lihatlah ! orang berlomba-lomba, mengerahkan segala mampu mereka hanya untuk mendapatkan buah itu, ragam cara mereka tempuh, walau apa yang engkau miliki tidak memadai untuk mendapatkan buah itu, tapi berusahalah dan ikutlah perlombaan ini ikutilah mereka memaksimalkan cara dan usaha dan mintalah mohon kepada pemilik pohon dan buah ini agar berkenan memberi yang kamu inginkan.”  Tanpa saya sadari,saya terpana, mengamini dan mengkristalkan kata-kata itu dalam diri, ternyata ketika saya akan melangkah menyeriusi bangkit diri mengoptimal mampu, tiba-tiba angin berhembus dan menggoyang-goyang pohon itu dengan genitnya hingga beberapa buahnya jatuh tepat dihadapan saya. Dengan mengucap syukur saya mengambilnya satu persatu memasukkannya dalam bakul saya, sementara orang-orang itu menatap saya iri dan hati serta akal mereka diliputi tidak percaya.

Ketika buah-buah itu saya peroleh, saya tersentak terkaget-kaget karena ternyata ada buah yang lebih indah dan gurih, sangat nikmat lagi memikat.   Saya sempat terlupa dan terlalai mengira bahwa buah yang telah saya peroleh adalah segalanya, yakni satu dua biji buah dunia yang menyaman raga.  Saya benar-benar takut karna sering alfa menseriusi kerja untuk mendapatkan buah istimewa bin sebenarnya itu, buah akherat yang bernama Mardhatillah ditaman-taman jannah-Nya. Buah yang hanya dapat diperoleh melalui jalan wujudnya Syari’ah Islam yang kaffah melaui tegaknya Khilafah ‘ala Minhajjin Nubuwwah.  Bismillah, saya terus berusaha segarang mungkin, semarah sangat dan setega sekali ketika Om gagal berkali dengan tak tahu diri mengetuk pintu akal dan hati saya dengan merayu, memelas penuh iba.  Saya akan meneriakinya ,” hey gagal pergi loe sana, loe udah gue end!” Saya akan membuat Om gagal takut hingga lari terbirit-birit, saya akan mengusirnya tanpa berperasaan.  Namun ketika gagal itu datang dengan nama berhasil saya akan tersenyum menyambutnya, melayaninya sebaik mungkin agar dia merasa nyaman mampir di kehidupan saya.  Karena sejak hari ini saya ingin meyemai keindahan dilahan akal dan hati saya dengan benih-benih berhasil sebagai harga dari serius yang mulai saya doyani.   Sungguh orang serius bukan orang yang menolak kegagalan tapi menyikapi kegagalan dengan positif lalu berani mengevaluasi, berani memulai lagi, memperbaiki dengan cara-cara yang lebih sakti, lalu mensyukuri setiap amal itu dengan menggantungkan hasilnya pada peran Allah SWT. Mari berpartisipasi dalam sebuah amal spektakuler, mengembalikan peradaban yang dijanjikan Allah SWT, mari mengoptimalkan pikir dan kerja dalam amal jama’I memperjuangkan syari’ah dan khilafah dengan metode kenabian (intelektual, politis dan tanpa kekerasan).

Siapkah anda menjadi bagian orang-orang serius dalam mega proyek ini ??? buruaan ikutan, gak pake lama tapi gak maksa lho ya...hehehe

0 komentar:

Posting Komentar