Saya pikir adalah rasional jika
banyak kalangan memiliki harapan besar dengan terpilihnya Jokowi. Berharap ekonomi rakyat meningkat,
wajar. Berharap gaji dan tunjangan naik,
wajar juga. Berharap rasa aman terjaga,
kesehatan terlayani, dan pendidikan baik-berkualitas terwujud, wah ingin baangettt
tuuuh....! Ada sekian banyak harapan dengan terpilihnya
Jokowi.
Bergaul dengan warga kampung
adalah salah satu hal indah yang mewarnai hidup saya. Kenapa demikian ? Karena saya orang kampung,
ibu dan bapak saya orang kampung, keluarga saya banyak tinggal di kampung.
Sehingga pergaulan saya dengan warga kampung bukan hal baru dan asing. Sering dalam obrolan ngalur ngidul bersama
mereka. Kami membicarakan berita kekikian.
Tentang terpilihnya jokowi misalnya.
Mayoritas mereka yang bermata pencaharian petani sangat berharap harga
pupuk murah, pestisida murah dan harga gabah dan karet lum tinggi.
Saya kadang berfikir, keinginan
demikian adalah hal yang sederhana.
Mereka kurang begitu merisaukan bensin, listrik, biaya berobat, biaya
sekolah, lauk pauk, baju dan celana harganya menanjak naik, asal gabah dan
karet lum harganya juga bagus. Ah,
sederhana sekali.
Saya sering merasa miris,
keinginan untuk hidup bersama, jujur, tenggang rasa, tepa selera, dan ragam prilaku
baik yang sering dikisahkan untuk menggambarkan kondisi warga kampung, perlahan
mulai memudar. Seorang Bapak berumur,
mengujarkan kepada saya tentang masa lalu, betapa anak-anak hingga usia remaja
mereka jarang di rumah, namun lebih memilih mushala atau mesjid sebagai tempat
bercengkrama, menuntut ilmu, berkeluh kesah dan membukti andil. Tapi kini, suasana itu meredup dan sesekali
hanya bisa disaksikan kala Romadhon.
“Sudah jamannya , mau gimana lagi !” inilah jawaban yang terlontar
untuk pertanyaan saya. Seolah tidak ada
upaya perbaikan, atau justru merasa lelah dengan ragam upaya yang ternyata
tidak mendatangkan hasil yang memuaskan. “Dari
pada mengurusi itu, lebih baik mengurusi diri sendiri dan keluarga saja,”
itulah kalimat penimpal yang seringkali melemahkan upaya perbaikan.
Beberapa pihak yang sekian waktu
mendapatkan posisi ditengah mereka karena wibawa, kepintaran, kekayaan atau
kelebihan di bidang agama awalnya begitu dihormati. Namun prilaku culas, hitam, membodoh, tidak
jujur, luntur jiwa sosial, mendahulu sendiri mengemudiankan yang lain membuat
penghormatan itu berubah menjadi celaan dan penghindaran.
Beberapa realitas yang saya temui
menunjukkan bahwa faktor uang, kepentingan, dan pengaruh seringkali menjadi
aktor dibalik prilaku buruk itu. Betapa,
ketika seorang tokoh memiliki pengaruh, dan karena keadaan keluarganya yang
sedang bermasalah ekonomi, kadang mendorong si tokoh memanfa’atkan
kepengaruhannya untuk mengatasi problem ekonomi keluarga. Contoh mudah yaitu kasus seorang tokoh
kelompok tani yang setiap ada kegiatan percontohan selalu mendorong agar
lahannya lah yang dijadikan lokasi percontohan itu, padahal lahan anggota lain
juga memungkinkan bahkan sipemilik menyatakan siap merespon kegiatan itu. Memang anggota diajak berembug tentang hal
itu, namun tekanan-tekanan opini tak jarang dijadikan alat untuk mundurnya
pihak lain sebagai pelaksana. Tekanan itu seperti,”Kalau tidak berhasil di lahan Bapak, nanti kelompok kita jadi malu”
,”lokasi Bapak tidak memenuhi kriteria, karena syaratnya harus
bla..bla..bla...”, “ Kalau kegiatan di lahan Bapak, bisa tidak Bapak
bertanggung jawab dalam pengelolaannya ?”, dan berbagai opini lain yang
meluluhlantakkan keberanian anggota lain untuk merespon kegiatan.
Dalam ilmu penyuluhan dikenal
teknik pendekatan kepada tokoh desa (todes), tokoh masyarakat (tomas), tokoh
adat (todat), tokoh agama (toma). Namun
seperti yang saya sampaikan di atas bahwa sebagian besar tokoh ini sering kalah
oleh motif kepentingan yang menyebabkan ketokohannya saru ibarat jagung tongkol
bagus, ketika dibuka isinya ompong bin perengus. Apalagi bila tokoh ini
merangkap tim sukses parpol tertentu. Kadang sebagai penyuluh dihadapkan pada
pilihan sulit, merangkul tokoh dengan menghalal ragam cara, mewarnai tokoh
sehingga jelas warna dominannya, meninggalkan si tokoh dan berpaling pada tokoh
potensial lain, atau mengalir saja tidak melakukan desain apa-apa.
Tak jarang keadaan inilah yang
menjadi tantangan untuk menciptakan kelompok tani yang kokoh, kadang alasan ini
pulalah yang menjadikan warna kelompok tani buram, buyar, mati segan hidup tak
mau, berulang sebab ini pulalah yang diklaim sebagai faktor ketidakinginan
sebagian masyarakat berkelompok.
Bila realitas demikian terjadi,
jangan heran masyarakat nafsi-nafsi yang akan terwujud, sebuah wajah masyarakat
di mana individu adalah faktor utama yang berperan dalam membaik dan
memburukkan. Bila nyatanya individu yang
dimaksud banyak borok bin bobrok maka untuk mewujudkan harapan yang sederhana
pun sepertinya sulit realisasi.
Nah, dalam tulisan ini saya
mencoba menyajikan tentang kelirunya cara pandang bahwa masyarakat hanyalah
kumpulan individu semata, artinya masyarakat di katakan baik ketika individunya
baik. Padahal tatkala diamati dengan
jernih ternyata masyarakat tidak hanya disusun oleh individu, di masyarakat ada
aturan yang diterapkan dan mendominasi, ada pemikiran yang menguasai pemikiran
lain dan diterapkan, ada perasaan yang sama yang lahir dari pemikiran dan
aturan itu......
Bersambung.....

0 komentar:
Posting Komentar