Jumat, 24 Oktober 2014

Saya pikir adalah rasional jika banyak kalangan memiliki harapan besar dengan terpilihnya Jokowi.  Berharap ekonomi rakyat meningkat, wajar.  Berharap gaji dan tunjangan naik, wajar juga.  Berharap rasa aman terjaga, kesehatan terlayani, dan pendidikan baik-berkualitas terwujud, wah ingin baangettt  tuuuh....!  Ada sekian banyak harapan dengan terpilihnya Jokowi.

Bergaul dengan warga kampung adalah salah satu hal indah yang mewarnai hidup saya.  Kenapa demikian ? Karena saya orang kampung, ibu dan bapak saya orang kampung, keluarga saya banyak tinggal di kampung. Sehingga pergaulan saya dengan warga kampung bukan hal baru dan asing.  Sering dalam obrolan ngalur ngidul bersama mereka. Kami membicarakan berita kekikian.  Tentang terpilihnya jokowi misalnya.  Mayoritas mereka yang bermata pencaharian petani sangat berharap harga pupuk murah, pestisida murah dan harga gabah dan karet lum tinggi. 

Saya kadang berfikir, keinginan demikian adalah hal yang sederhana.  Mereka kurang begitu merisaukan bensin, listrik, biaya berobat, biaya sekolah, lauk pauk, baju dan celana harganya menanjak naik, asal gabah dan karet lum harganya juga bagus.  Ah, sederhana sekali.

Saya sering merasa miris, keinginan untuk hidup bersama, jujur, tenggang rasa, tepa selera, dan ragam prilaku baik yang sering dikisahkan untuk menggambarkan kondisi warga kampung, perlahan mulai memudar.  Seorang Bapak berumur, mengujarkan kepada saya tentang masa lalu, betapa anak-anak hingga usia remaja mereka jarang di rumah, namun lebih memilih mushala atau mesjid sebagai tempat bercengkrama, menuntut ilmu, berkeluh kesah dan membukti andil.  Tapi kini, suasana itu meredup dan sesekali hanya bisa disaksikan kala Romadhon.

“Sudah jamannya , mau gimana lagi !” inilah jawaban yang terlontar untuk pertanyaan saya.  Seolah tidak ada upaya perbaikan, atau justru merasa lelah dengan ragam upaya yang ternyata tidak mendatangkan hasil yang memuaskan. “Dari pada mengurusi itu, lebih baik mengurusi diri sendiri dan keluarga saja,” itulah kalimat penimpal yang seringkali melemahkan upaya perbaikan.

Beberapa pihak yang sekian waktu mendapatkan posisi ditengah mereka karena wibawa, kepintaran, kekayaan atau kelebihan di bidang agama awalnya begitu dihormati.  Namun prilaku culas, hitam, membodoh, tidak jujur, luntur jiwa sosial, mendahulu sendiri mengemudiankan yang lain membuat penghormatan itu berubah menjadi celaan dan penghindaran.

Beberapa realitas yang saya temui menunjukkan bahwa faktor uang, kepentingan, dan pengaruh seringkali menjadi aktor dibalik prilaku buruk itu.  Betapa, ketika seorang tokoh memiliki pengaruh, dan karena keadaan keluarganya yang sedang bermasalah ekonomi, kadang mendorong si tokoh memanfa’atkan kepengaruhannya untuk mengatasi problem ekonomi keluarga.  Contoh mudah yaitu kasus seorang tokoh kelompok tani yang setiap ada kegiatan percontohan selalu mendorong agar lahannya lah yang dijadikan lokasi percontohan itu, padahal lahan anggota lain juga memungkinkan bahkan sipemilik menyatakan siap merespon kegiatan itu.  Memang anggota diajak berembug tentang hal itu, namun tekanan-tekanan opini tak jarang dijadikan alat untuk mundurnya pihak lain sebagai pelaksana. Tekanan itu seperti,”Kalau tidak berhasil di lahan Bapak, nanti kelompok kita jadi malu” ,”lokasi Bapak tidak memenuhi kriteria, karena syaratnya harus bla..bla..bla...”, “ Kalau kegiatan di lahan Bapak, bisa tidak Bapak bertanggung jawab dalam pengelolaannya ?”, dan berbagai opini lain yang meluluhlantakkan keberanian anggota lain untuk merespon kegiatan.

Dalam ilmu penyuluhan dikenal teknik pendekatan kepada tokoh desa (todes), tokoh masyarakat (tomas), tokoh adat (todat), tokoh agama (toma).  Namun seperti yang saya sampaikan di atas bahwa sebagian besar tokoh ini sering kalah oleh motif kepentingan yang menyebabkan ketokohannya saru ibarat jagung tongkol bagus, ketika dibuka isinya ompong bin perengus. Apalagi bila tokoh ini merangkap tim sukses parpol tertentu. Kadang sebagai penyuluh dihadapkan pada pilihan sulit, merangkul tokoh dengan menghalal ragam cara, mewarnai tokoh sehingga jelas warna dominannya, meninggalkan si tokoh dan berpaling pada tokoh potensial lain, atau mengalir saja tidak melakukan desain apa-apa.

Tak jarang keadaan inilah yang menjadi tantangan untuk menciptakan kelompok tani yang kokoh, kadang alasan ini pulalah yang menjadikan warna kelompok tani buram, buyar, mati segan hidup tak mau, berulang sebab ini pulalah yang diklaim sebagai faktor ketidakinginan sebagian masyarakat berkelompok.

Bila realitas demikian terjadi, jangan heran masyarakat nafsi-nafsi yang akan terwujud, sebuah wajah masyarakat di mana individu adalah faktor utama yang berperan dalam membaik dan memburukkan.  Bila nyatanya individu yang dimaksud banyak borok bin bobrok maka untuk mewujudkan harapan yang sederhana pun sepertinya sulit realisasi. 

Nah, dalam tulisan ini saya mencoba menyajikan tentang kelirunya cara pandang bahwa masyarakat hanyalah kumpulan individu semata, artinya masyarakat di katakan baik ketika individunya baik.  Padahal tatkala diamati dengan jernih ternyata masyarakat tidak hanya disusun oleh individu, di masyarakat ada aturan yang diterapkan dan mendominasi, ada pemikiran yang menguasai pemikiran lain dan diterapkan, ada perasaan yang sama yang lahir dari pemikiran dan aturan itu......


Bersambung.....

0 komentar:

Posting Komentar