Minggu, 23 November 2014


Dari kota, mendekati jam 10 siang, saya membonceng motor lakilaki sederhana. Garang, suzuki tua itu meraung-raung penuh tenaga.  Meliuk-liuk, menyalip, dan tak lupa wasapada lakilaki sederhana mengejar waktu yang berlari.  Menuju kampung pinggiran kota arah Banjarmasin.  Terlihat beberapa alat berat sedang terparkir di pinggir jalan sempit kampung.  Lakilaki sederhana memelankan motornya ketika melewati kerumunan warga yang sedang menghadiri walimahan.  Mobil-mobil mewah terparkir beraturan, sementara parkir motor terlihat semraut mengisi tempat-tempat kosong halaman rumah warga.

Di sebuah rumah samping majlis ta’lim,  Inova berwarna cream dan sebuah sedan ungu terlihat anggun saling pandang menghiasi halaman rumah.  Pintu terbuka, tak sengaja lakilaki sederhana bertemu pandang dengan seorang lakilaki usia 40 tahunan  sedang tersenyum.

“Masuk-masuk” ucapnya ramah.  Namun lakilaki 40 itu masih duduk menghadap pintu, menemani 3 tamunya yang lebih dulu datang.

“Assalamu’alaikum, Ustadz,” Ucap lakilaki sederhana sopan

Lakilaki 40 menjawab salam itu, dan lakilaki sederhana mencium tangan beliau, bukan maksud penghormatan berlebihan, tetapi lebih pada penghargaan atas berkah umur, ketaqwaan dan ilmu yang dimiliki lakilaki 40.  Setelah berjabat tangan dengan tiga tamu yang lain, lakilaki sederhana duduk di sebelah kanan lakilaki 40.

“Wah, lama gak temu, bagaimana kabar antum ?” hangat laki-laki 40 menyapa
“Iya nih Ustadz, mohon ma’af sekali baru bisa menziarohi anta hari ini,” sahut lakilaki sederhana tersipu

Lakilaki 40 menceritakan beberapa waktu tadi dia ke banjarmasin, ketika sholat di sebuah mesjid beliau girang dengan buletin yang ada di mesjid itu, buletin yang sering beliau dapatkan sebagai hadiah dari lakilaki sederhana setiap berkunjung.  Beliau mengungkapkan rasa senangnya tatkala membaca buletin yang kala itu mengangkat tema “Pemimpin pilihan rakyat, tapi tak merakyat”.  Lakilaki yang mengenakan peci putih, berbaju batik dan bercelana bahan itu mengeluhkan sikap banyak pemimpin yang mendapat amanat rakyat, tatkala ingin menjadi pemimpin rajin mengunjungi ‘ulama.  Namun setelah jadi pemimpin justru meninggalkan “ulama. Perilaku ini menunjukkan ketidakihklasan pemimpin tersebut, nasehat ulama diiyakan dan didengar sebelum memimpin, setelah memimpin nasehat itu dicampakkan dan tidak digubris.

Lakilaki sederhana mendengar keluhan itu khidmad, sambil sesekali memberikan tanggapan.  Inilah realitas pemimpin hari Ustadz, walaupun sebenarnya pemimpin yang baik itu ada saja, namun sistem demokrasi yang diterapkan mendorong orang baik cenderung berprilaku tidak lagi mengindahkan standar halal dan haram.  Lakilaki 40 bertanya, bagaimana pandangan anda tentang kepemimpinan Ahok.  Lakilaki sederhana menjelaskan, sebagai muslim tentu pilihan perkataan dan perbuatan kita harus mendasarinya pada hukum syara’.  Dalam pandangan syara’, kaum muslimin haram dipimpin oleh orang non muslim.  Dalam Islam, istilah gubernur dikenal dengan istilah wali, yang mana pengangkatannya dilakukan oleh seorang khalifah, bukan dipilih oleh rakyat apalagi DPRD.  Lakilaki sederhana melanjutkan, hukum saat ini memandang bahwa Ahok layak jadi gubernur karena gubernur terdahulu meninggalkan jabatannya untuk posisi lain.  Sebagai wakil gubernur menurut aturan negeri ini, maka Ahoklah yang harus naik.   Disisi lain, sebagian warga jakarta memandang bahwa kepemimpinan Ahok yang pro pada kemajuan dan pro pada rakyat kecil membuat tak sedikit kaum muslimin lebih melihat Ahok tidak dari sisi Aqidah, artinya tak peduli Ahok apa Aqidahnya yang penting dia mampu memimpin.

“Ooo...begitu ya ?” sahut lakilaki 40 manggut-manggut

Sebagian masyarakat Jakarta sebagai penduduk muslim, beberapa kecewa dengan kepemimpinan terdahulu yang dijabat oleh seorang muslim, karena belum mampu mewujudkan harapan umum yang diinginkan, artinya seorang muslim yang memimpin belum memberikan jaminan terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang dijanjikan.   Lakilaki sederhana menambahkan, saat ini mayoritas pemimpin di negeri kita agamanya Islam, tapi karena aturan yang diterapkan bukan Islam dan penerapannya bukan dengan cara islam, wajar bila umat Islam merasa kecewa karena yang didapatnya justru kesulitan dan penderitaan, bukan keadilan dan kesejahteraan yang dijanjikan.  Dengan kata lain orang islamnya memimpin, tapi islam ditinggal atau digunakan sebagian-sebagian saja.  Sehingga menolak Ahok jadi Gubernur ( tapi menolak secara aqidah wajib hukumnya loh), menghadirkan gubernur tandingan tidak akan menghasilkan apa-apa, bila tidak dilakukan juga upaya penolakan terhadap sistem demokrasi yang membuat permasalahan ini hadir.  Disinilah pentingnya perjuangan penegakkan syari’ah dan khilafah sebagai solusi menggantikan demokrasi.


Lakilaki 40 tersenyum, membenarkan apa yang disampaikan, bersedia memberi dukungan, bersedia dalam ceramahnya turut menyampaikan problematika umat dan dakwah ideologis ke jama’ahnya dan ketengah-tengah masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar