Dari kota, mendekati jam 10 siang,
saya membonceng motor lakilaki sederhana. Garang, suzuki tua itu meraung-raung
penuh tenaga. Meliuk-liuk, menyalip, dan
tak lupa wasapada lakilaki sederhana mengejar waktu yang berlari. Menuju kampung pinggiran kota arah
Banjarmasin. Terlihat beberapa alat
berat sedang terparkir di pinggir jalan sempit kampung. Lakilaki sederhana memelankan motornya ketika
melewati kerumunan warga yang sedang menghadiri walimahan. Mobil-mobil mewah terparkir beraturan,
sementara parkir motor terlihat semraut mengisi tempat-tempat kosong halaman
rumah warga.
Di sebuah rumah samping majlis ta’lim,
Inova berwarna cream dan sebuah sedan
ungu terlihat anggun saling pandang menghiasi halaman rumah. Pintu terbuka, tak sengaja lakilaki sederhana
bertemu pandang dengan seorang lakilaki usia 40 tahunan sedang tersenyum.
“Masuk-masuk” ucapnya ramah.
Namun lakilaki 40 itu masih duduk menghadap pintu, menemani 3 tamunya
yang lebih dulu datang.
“Assalamu’alaikum, Ustadz,” Ucap lakilaki sederhana sopan
Lakilaki 40 menjawab salam itu,
dan lakilaki sederhana mencium tangan beliau, bukan maksud penghormatan berlebihan,
tetapi lebih pada penghargaan atas berkah umur, ketaqwaan dan ilmu yang
dimiliki lakilaki 40. Setelah berjabat
tangan dengan tiga tamu yang lain, lakilaki sederhana duduk di sebelah kanan
lakilaki 40.
“Wah, lama gak temu, bagaimana kabar antum ?” hangat laki-laki 40
menyapa
“Iya nih Ustadz, mohon ma’af sekali baru bisa menziarohi anta hari ini,”
sahut lakilaki sederhana tersipu
Lakilaki 40 menceritakan beberapa
waktu tadi dia ke banjarmasin, ketika sholat di sebuah mesjid beliau girang
dengan buletin yang ada di mesjid itu, buletin yang sering beliau dapatkan
sebagai hadiah dari lakilaki sederhana setiap berkunjung. Beliau mengungkapkan rasa senangnya tatkala
membaca buletin yang kala itu mengangkat tema “Pemimpin pilihan rakyat, tapi
tak merakyat”. Lakilaki yang mengenakan
peci putih, berbaju batik dan bercelana bahan itu mengeluhkan sikap banyak
pemimpin yang mendapat amanat rakyat, tatkala ingin menjadi pemimpin rajin
mengunjungi ‘ulama. Namun setelah jadi
pemimpin justru meninggalkan “ulama. Perilaku ini menunjukkan ketidakihklasan
pemimpin tersebut, nasehat ulama diiyakan dan didengar sebelum memimpin,
setelah memimpin nasehat itu dicampakkan dan tidak digubris.
Lakilaki sederhana mendengar
keluhan itu khidmad, sambil sesekali memberikan tanggapan. Inilah realitas pemimpin hari Ustadz, walaupun
sebenarnya pemimpin yang baik itu ada saja, namun sistem demokrasi yang
diterapkan mendorong orang baik cenderung berprilaku tidak lagi mengindahkan
standar halal dan haram. Lakilaki 40
bertanya, bagaimana pandangan anda tentang kepemimpinan Ahok. Lakilaki sederhana menjelaskan, sebagai muslim
tentu pilihan perkataan dan perbuatan kita harus mendasarinya pada hukum syara’. Dalam pandangan syara’, kaum muslimin haram
dipimpin oleh orang non muslim. Dalam
Islam, istilah gubernur dikenal dengan istilah wali, yang mana pengangkatannya
dilakukan oleh seorang khalifah, bukan dipilih oleh rakyat apalagi DPRD. Lakilaki sederhana melanjutkan, hukum saat
ini memandang bahwa Ahok layak jadi gubernur karena gubernur terdahulu
meninggalkan jabatannya untuk posisi lain.
Sebagai wakil gubernur menurut aturan negeri ini, maka Ahoklah yang
harus naik. Disisi lain, sebagian warga
jakarta memandang bahwa kepemimpinan Ahok yang pro pada kemajuan dan pro pada
rakyat kecil membuat tak sedikit kaum muslimin lebih melihat Ahok tidak dari
sisi Aqidah, artinya tak peduli Ahok apa Aqidahnya yang penting dia mampu
memimpin.
“Ooo...begitu ya ?” sahut lakilaki 40 manggut-manggut
Sebagian masyarakat Jakarta
sebagai penduduk muslim, beberapa kecewa dengan kepemimpinan terdahulu yang
dijabat oleh seorang muslim, karena belum mampu mewujudkan harapan umum yang diinginkan, artinya seorang muslim yang memimpin belum
memberikan jaminan terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang dijanjikan. Lakilaki sederhana menambahkan, saat ini
mayoritas pemimpin di negeri kita agamanya Islam, tapi karena aturan yang
diterapkan bukan Islam dan penerapannya bukan dengan cara islam, wajar bila
umat Islam merasa kecewa karena yang didapatnya justru kesulitan dan
penderitaan, bukan keadilan dan kesejahteraan yang dijanjikan. Dengan kata lain orang islamnya memimpin,
tapi islam ditinggal atau digunakan sebagian-sebagian saja. Sehingga menolak Ahok jadi Gubernur ( tapi menolak
secara aqidah wajib hukumnya loh), menghadirkan gubernur tandingan tidak akan
menghasilkan apa-apa, bila tidak dilakukan juga upaya penolakan terhadap sistem
demokrasi yang membuat permasalahan ini hadir.
Disinilah pentingnya perjuangan penegakkan syari’ah dan khilafah sebagai
solusi menggantikan demokrasi.
Lakilaki 40 tersenyum, membenarkan
apa yang disampaikan, bersedia memberi dukungan, bersedia dalam ceramahnya
turut menyampaikan problematika umat dan dakwah ideologis ke jama’ahnya dan
ketengah-tengah masyarakat.

0 komentar:
Posting Komentar