Rabu, 24 Desember 2014


Subuh-subuh sekali.  Begitu gelap pula.  Tinggal di dalam hutan dengan penerangan lampu teplok.  Banyak nyamuk, lolongan jangkrik, dan grasak-grusuk babi hutan yang tak kadang mengundang angker.  Bersama motor tuanya bapak dua anak itu, mengangkat karung yang isinya 50 kiloan lebih, di taruh di bagian depan motor, dan 1 karungnya diikat dengan tali karet di jok belakang.  Beliau membawa ubi kayu yang sore tadi beliau panen beberapa, hasil dari kebun pinjamannya milik teman saya juga.

Bersama seorang rekan, beliau memacu motornya, melawan sunyi dan dingin subuh.  Melewati jalan menurun yang selalu segar diingatan saya, jalan menurun yang menjadi sanksi patahnya tulang bahu saya beberapa waktu silam.  Bunyi motor tua itu meraung-raung berisik, bunyi kumbang malam semakin nyaring melengking, mungkin mereka menunjukkan protes atas suara motor yang menjajah.  Lakilaki itu tak peduli, kantuk berat dilawannya tangguh, hingga kantuk itupun menyingkir, menghindari kegarangan lakilaki yang subuh itu bersemangat menjemput rezqy.

Sesampainya ditujuan, gegas lakilaki menurunkan dua karung yang dipikul motornya, seorang paruh baya mendekat, paruh baya yang baru beberapa kali bertemu dan baru beberapa kali memberinya senang dan indah.  Lakilaki ternsenyum. 

Paruh baya yang matanya keruh itupun menyapa, “Mas, banyak bawa barang ini ?”.
“Lebih 30 kilo dari kemaren Pak.  Ngomong-ngomong, ada kabar gembira gak nih?” tanya lakilaki halus.

“Maksudnya ?” paruh baya mengerinyikan dahi, bingung.

“Ya, bapap tau sendiri kan, apa-apa sekarang mahal, karena BBM naik,” sahut lakilaki berusaha mengarahkan pembicaraan

“Maksutnya apa sih Mas, saya ko’ belum ngerti, apa hubungannya kabar gembira dan BBM naik ?” si Paruh baya makin penasaran.  Mukanya terlihat lucu.

“Ya, kali aja, harga Ubi ikut naik juga gito loh, Pak,” ujar lakilaki menjelaskan.
Paruh baya geleng-geleng kepala, dia tak menyadari, ternyata arah pertanyaan lakilaki adalah info harga ubi terbaru.

“Bersyukurlah Mas, harga ubi lumayan bagus, kalau Mas jual eceran bisa 2500, tapi kalau mau jual partai ke saya harganya 2000 perkilo.”

Lakilaki sumringah, isi kepalanya sibuk, mengkali 90 kilo dengan 2000, terbayang wajah 2 putranya, terngiang informasi dari sang istri tentang bumbu dapur dan beras yang mulai sedikit.  Hujan dan harga karet murah telah merubah rasa nyaman selama ini.  Hidup harus berjalan.  Tanggung jawab harus tuntas maksimal, bukan asal menjalankan.  Lakilaki mengiyakan tawaran paruh baya, sedangkan sang teman menunggu pembeli lain yang menawarkan harga lebih baik.  Lakilaki pulang ketika matahari mulai mengintip-ngintip genit pagi itu.  Matanya sayu, lidahnya masam karena belum ngerokok, dan perutnya keroncongan menuju gubuk di tengah hutan.  Sang istri tersenyum menyambut lakilaki, menghidangkan sarapan ala kadarnya ditemani dua jagoan kecil mereka yang lucu-lucu.  Ah senderhana sekali hidup, hidup tak neko-neko, realistis dan progress untuk survive.


0 komentar:

Posting Komentar