Subuh-subuh sekali. Begitu gelap pula. Tinggal di dalam hutan dengan penerangan
lampu teplok. Banyak nyamuk, lolongan
jangkrik, dan grasak-grusuk babi hutan yang tak kadang mengundang angker. Bersama motor tuanya bapak dua anak itu,
mengangkat karung yang isinya 50 kiloan lebih, di taruh di bagian depan motor,
dan 1 karungnya diikat dengan tali karet di jok belakang. Beliau membawa ubi kayu yang sore tadi beliau
panen beberapa, hasil dari kebun pinjamannya milik teman saya juga.
Bersama seorang rekan, beliau
memacu motornya, melawan sunyi dan dingin subuh. Melewati jalan menurun yang selalu segar
diingatan saya, jalan menurun yang menjadi sanksi patahnya tulang bahu saya
beberapa waktu silam. Bunyi motor tua
itu meraung-raung berisik, bunyi kumbang malam semakin nyaring melengking,
mungkin mereka menunjukkan protes atas suara motor yang menjajah. Lakilaki itu tak peduli, kantuk berat
dilawannya tangguh, hingga kantuk itupun menyingkir, menghindari kegarangan
lakilaki yang subuh itu bersemangat menjemput rezqy.
Sesampainya ditujuan, gegas
lakilaki menurunkan dua karung yang dipikul motornya, seorang paruh baya
mendekat, paruh baya yang baru beberapa kali bertemu dan baru beberapa kali
memberinya senang dan indah. Lakilaki
ternsenyum.
Paruh baya yang matanya keruh
itupun menyapa, “Mas, banyak bawa barang ini ?”.
“Lebih 30 kilo dari kemaren
Pak. Ngomong-ngomong, ada kabar gembira
gak nih?” tanya lakilaki halus.
“Maksudnya ?” paruh baya
mengerinyikan dahi, bingung.
“Ya, bapap tau sendiri kan,
apa-apa sekarang mahal, karena BBM naik,” sahut lakilaki berusaha mengarahkan
pembicaraan
“Maksutnya apa sih Mas, saya ko’
belum ngerti, apa hubungannya kabar gembira dan BBM naik ?” si Paruh baya makin
penasaran. Mukanya terlihat lucu.
“Ya, kali aja, harga Ubi ikut
naik juga gito loh, Pak,” ujar lakilaki menjelaskan.
Paruh baya geleng-geleng kepala,
dia tak menyadari, ternyata arah pertanyaan lakilaki adalah info harga ubi
terbaru.
“Bersyukurlah Mas, harga ubi
lumayan bagus, kalau Mas jual eceran bisa 2500, tapi kalau mau jual partai ke
saya harganya 2000 perkilo.”
Lakilaki sumringah, isi kepalanya
sibuk, mengkali 90 kilo dengan 2000, terbayang wajah 2 putranya, terngiang
informasi dari sang istri tentang bumbu dapur dan beras yang mulai
sedikit. Hujan dan harga karet murah
telah merubah rasa nyaman selama ini.
Hidup harus berjalan. Tanggung
jawab harus tuntas maksimal, bukan asal menjalankan. Lakilaki mengiyakan tawaran paruh baya,
sedangkan sang teman menunggu pembeli lain yang menawarkan harga lebih
baik. Lakilaki pulang ketika matahari
mulai mengintip-ngintip genit pagi itu.
Matanya sayu, lidahnya masam karena belum ngerokok, dan perutnya
keroncongan menuju gubuk di tengah hutan.
Sang istri tersenyum menyambut lakilaki, menghidangkan sarapan ala
kadarnya ditemani dua jagoan kecil mereka yang lucu-lucu. Ah senderhana sekali hidup, hidup tak
neko-neko, realistis dan progress untuk survive.

0 komentar:
Posting Komentar