Minggu, 26 Januari 2014

Suatu ketika, disebuah gubuk, diadakan pertemuan untuk membahas sebuah masalah yang hingga saat itu belum diperoleh penyelesaian.  Masalahnya sederhana, sekedar menjawab sebuah pertanyaan, pertanyaan yang anak SD pun pasti bisa menjawab. Namun setelah berlalu hari, minggu, bulan, hingga tahun.  Tak ada seorang cerdas pun yang mampu menyajikan jawaban tepat yang ditanyakan penghuni gubuk.  Beberapa orang masih terlihat bersemangat membolak-balik buku, beberapa yang lain terlihat begitu lincah memainkan jari-jari tangannya di atas tuts laptop sembari matanya difokuskan pada layar yang menampilkan sajian mbah GOOGLE. Ada lagi yang lain, yang begitu khusu mengelus dan menggeser jari di layar tablet bermerk apel bekas gigitan sekedar untuk mencari jawaban.


Di tempat yang sama, beberapa lakilaki terlihat begitu khusu memandang langit, begitu menghayati merasakan debur angin sore yang segar, bahkan telinga mereka begitu seksama mendengarkan gesekan daun buluh dan riuh gerak ranting-ranting yang bersentuhan kasar akibat terpaan angin. Tujuan para lakilaki itu melakukannya hanya satu, mereka berharap melalui aktivitas itu, mereka mendapat ilham,wangsit,atau mungkin bisikan ghoib yang memberitahukan tentang jawaban yang mereka cari-cari selama ini.

Sementara 5 lakilaki dan 4 perempuan telah merasa lelah dan frustasi, upaya yang mereka jalani hanya berakhir gagal.  Karena kejadian itulah mereka memilih pasrah menerima nasib, bahwa jawaban itu adalah mustahil.

Hari semakin menuju ujung sore, hampil 20 an orang itu telah berkumpul di dalam gubuk.  Mereka terlihat ribut dan saling beradu keluhan. Ya, keluhan dengan tema yang sama, kenapa penghuni gubuk belum menampakkan diri juga, padahal tujuan 20 an orang itu hadir adalah untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sudah sekian lama menyusahkan kehidupan mereka.

Pembaca yang budiman, mungkin anda penasaran apa sebenarnya pertanyaan yang sangat memusingkan dan menyusahkan ke 20 orang itu. Sebenarnya diawal saya sudah memberikan gambaran tentang pertanyaan itu, ya sebuah pertanyaan sederhana dan mudah, saking mudahnya anak SD pun pasti bisa menjawab. Ada seseorang yang mengencangkan 2 tangayannya kedepan dengan jari-jari terbuka lebar (mirip posisi mendadah). Jarak antara tangan kiri dan tangan kanan dibiarkan terbuka  sekitar 60 - 80 cm. Bila ada perintah untuk melihat tangan kanan, mana yang terlihat jelas, mana yang nampak samar-samar ?.  Ternyata dari 20 an orang itu, menjawab tangan kanan dan tangan kiri terlihat samar-samar.

Instruksinya jelas, dengan posisi seperti di atas, lihat tangan kanan !  Artinya karena instruksinya meminta untuk melihat tangan kanan, maka otomatis yang terlihat jelas adalah tangan kanan. Sama halnya dengan kehidupan, tak ada kehidupan tanpa masalah, yang namanya kehidupan pasti dihiasi dengan masalah.  Namun yang membedakan kualitas kita adalah sikap kita dengan masalah tersebut. apakah tatkala mencari masalah kita sudah sesuai instruksi, apakah tatkala menyelesaikan masalah kita sudah sesuai instruksi.  Bila masalah itu telah jelas terlihat oleh kita, maka apakah kita telah memfokuskan kemampuan untuk menyelesaikannya, atau justru kita lebih menyenangi disibuk-sibukkan oleh kesamar-samaran yang justru banyak menyedot waktu,pikiran,tenaga,bahkan harta kita.

0 komentar:

Posting Komentar