Waktu jam 11 lewat. Mengunjungi rumah seorang ‘alim. Lakilaki sederhana memarkir motor tuanya di
rumah tersebut. Nampak sepi. Hanya terlihat seekor sapi limosin di kandang
yang gak nawar-nawarin waktu nyantap rumput segar (intermezo). Beberapa kali pintu diketok ternyata tak ada
suara menyahut. Akhirnya lakilaki
sederhana memutuskan mengunjungi sang ‘alim ke pondok pesantren beliau.
Beberapa anak kecil sedang asyik
maen kelereng di halaman mesjid, mereka tak mempedulikan matahari yang begitu
terik, mereka larut dalam kegembiraan permainan yang melenakan itu. Sementara beberapa anak-anak lain sedang
handukan, ada yang mau mandi ada yang sudah mandi. Lakilaki sederhana menghampiri seorang anak
yang putih dengan wajah menggemaskan, anak itu ternyata murid sang ‘alim. Menurut anak itu, sang ‘alim sedang mengisi
kajian mingguan disalah satu ruangan pondok, tepatnya di samping kiri mesjid,
atau bagian belakang pondok. Lakilaki
sederhana langsung menebak tempat itu, tempat yang pernah dia panjang lebar
berdiskusi dengan sang ‘alim.
Beberapa saat kemudian, terlihat
seorang lakilaki langsing, mengenakan sarung dan baju muslim, berpeci putih
berjanggut panjang. Beliau tersenyum
melihat kedatangan lakilaki sederhana. Setelah
mengucapkan salam, mencium tangan sang ‘alim, lakilaki sederhana menyampaikan
maksud kedatangannya.
“Kita ke rumah saja, biar
ngobrolnya enak,” pinta sang ‘alim
Lakilaki sederhana mengiyakan dan
menemani sang ‘alim menuju rumahnya di seberang pondok. Di perjalanan itu lakilaki sederhana
menanyakan aktivitas sang ‘alim mengisi hari-harinya. Sang ‘alim mengatakan beliau sedang menugal
(menanam padi lahan kering) sekitar 3 Ha.
Jam 2 siang ketika orang banyak istirahat beliau ke sawah, sebelum ashar
pulang, waktu lainnya digunakan untuk mengajar, mengisi kajian dan mengelola
pondok. Dari sawah itulah, salah satunya
sumber nafkah beliau menghidupi keluarga besarnya. Subhanallahnya beliau punya anak 7 lebih,
dari satu istri saja pula. Bahkan si
sulung sekarang sudah kuliah di Al-Azhar kairo mesir, baru masuk. Menurut cerita sang ‘alim, anaknya merasa
cocok dengan kuliah di tempat tersebut, padahal sebelumnya sudah berstatus
mahasiswi IAIN di sini. Menurut putri
sang ‘alim, ditempat kuliah sebelumnya banyak waktu menganggur, kadang dosennya gak masuk sehingga kuliah libur, sedangkan di Mesir lebih ketat, waktu hampir-hampir terisi penuh dengan aktivitas menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu.
Sesampainya di rumah, sang ‘alim
mempersilahkan lakilaki sederhana masuk. Di awal pembicaraan lakilaki sederhana
menanyakan. Bagaimana putri sang ‘alim
selama di Mesir, adakah olehnya dikabari info perkembangan di sana, karena
konon kasus IM Vs Rezim As-Sisi berdampak pada masyarakat dan mahasiswa yang
kuliah di Kairo. Sang ‘alim
menyampaikan, alhamdulillah putrinya tidak terkena dampak hal itu, beliau
melanjutkan bahwa tak bisa dipungkiri memang perkembangan politik di mesir
sewaktu-waktu bisa meledak.
Lakilaki sederhana melanjutkan
pembicaraan dengan memintakan do’a kepada sang ‘alim atas syahidnya Ustadz Abu
Bakar Mustafa Khayal, seorang pejuang syari’ah dan khilafah mukhlish ditangan
tandzim ad daulah (ISIS) dengan cara yang keji lagi dzalim. Singkat lakilaki sederhana menjelaskan proses
kematian Asy-Syahid. Sang ‘alim kemudian
bertanya.
“Apa yang kemudian dilakukan oleh
rekan-rekan satu jama’ah dengan Asy Syahid ?” mimik beliau serius mengharapkan
informasi
Lakilaki sederhana menjelaskan
bahwa rekan-rekan Asy-Syahid dan jama’ah tetap berpegang teguh pada metode
Rasulullah SAW dalam menegakkan khilafah : dengan pemikiran (fikroh), siyasah
(politik) dan La Madiyah (tanpa kekerasan).
Sang ‘alim manggut-manggut membenarkan dan menimpali bahwa memang
Rasulullah dan para sahabat diperintahkan menggunakan kekuatan fisik tatkala
daulah Madinah telah berdiri. Lakilaki
sederhana kemudian memaparkan tentang hakekat ISIS sebagai tandzim askari,
deklarasi khilafah ISIS, dan letak kekeliruan ISIS dalam pembentukan khlafah,
dan harapan agar sang ‘alim turut serta memperjuangkan khilafah sesuai metode
kenabian. Beliau diam, sambil mengisap
rokok yang telah dihabiskannya beberapa batang menemani lakilaki
sederhana. Lakilaki sederhana berdo’a
semoga Allah SWT memberikan rahmatNya sehingga penjelasan dan hubungan baik
selama ini menjadikan beliau berada di garda terdepan perjuangan syari’ah dan
khilafah.
Tak terasa adzan dzuhur
berkumandang. Lakilaki sederhana pamit
diantar sang ‘alim menuju pintu.

0 komentar:
Posting Komentar