Senin, 24 November 2014


Waktu jam 11 lewat.  Mengunjungi rumah seorang ‘alim.  Lakilaki sederhana memarkir motor tuanya di rumah tersebut.  Nampak sepi.  Hanya terlihat seekor sapi limosin di kandang yang gak nawar-nawarin waktu nyantap rumput segar (intermezo).  Beberapa kali pintu diketok ternyata tak ada suara menyahut.  Akhirnya lakilaki sederhana memutuskan mengunjungi sang ‘alim ke pondok pesantren beliau.

Beberapa anak kecil sedang asyik maen kelereng di halaman mesjid, mereka tak mempedulikan matahari yang begitu terik, mereka larut dalam kegembiraan permainan yang melenakan itu.  Sementara beberapa anak-anak lain sedang handukan, ada yang mau mandi ada yang sudah mandi.  Lakilaki sederhana menghampiri seorang anak yang putih dengan wajah menggemaskan, anak itu ternyata murid sang ‘alim.  Menurut anak itu, sang ‘alim sedang mengisi kajian mingguan disalah satu ruangan pondok, tepatnya di samping kiri mesjid, atau bagian belakang pondok.  Lakilaki sederhana langsung menebak tempat itu, tempat yang pernah dia panjang lebar berdiskusi dengan sang ‘alim.

Beberapa saat kemudian, terlihat seorang lakilaki langsing, mengenakan sarung dan baju muslim, berpeci putih berjanggut panjang.  Beliau tersenyum melihat kedatangan lakilaki sederhana.  Setelah mengucapkan salam, mencium tangan sang ‘alim, lakilaki sederhana menyampaikan maksud kedatangannya.

“Kita ke rumah saja, biar ngobrolnya enak,” pinta sang ‘alim

Lakilaki sederhana mengiyakan dan menemani sang ‘alim menuju rumahnya di seberang pondok.  Di perjalanan itu lakilaki sederhana menanyakan aktivitas sang ‘alim mengisi hari-harinya.  Sang ‘alim mengatakan beliau sedang menugal (menanam padi lahan kering) sekitar 3 Ha.  Jam 2 siang ketika orang banyak istirahat beliau ke sawah, sebelum ashar pulang, waktu lainnya digunakan untuk mengajar, mengisi kajian dan mengelola pondok.  Dari sawah itulah, salah satunya sumber nafkah beliau menghidupi keluarga besarnya.  Subhanallahnya beliau punya anak 7 lebih, dari satu istri saja pula.  Bahkan si sulung sekarang sudah kuliah di Al-Azhar kairo mesir, baru masuk.  Menurut cerita sang ‘alim, anaknya merasa cocok dengan kuliah di tempat tersebut, padahal sebelumnya sudah berstatus mahasiswi IAIN di sini.  Menurut putri sang ‘alim, ditempat kuliah sebelumnya banyak waktu menganggur, kadang dosennya gak masuk sehingga kuliah libur, sedangkan di Mesir lebih ketat, waktu hampir-hampir terisi penuh dengan aktivitas menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu.

Sesampainya di rumah, sang ‘alim mempersilahkan lakilaki sederhana masuk. Di awal pembicaraan lakilaki sederhana menanyakan.  Bagaimana putri sang ‘alim selama di Mesir, adakah olehnya dikabari info perkembangan di sana, karena konon kasus IM Vs Rezim As-Sisi berdampak pada masyarakat dan mahasiswa yang kuliah di Kairo.  Sang ‘alim menyampaikan, alhamdulillah putrinya tidak terkena dampak hal itu, beliau melanjutkan bahwa tak bisa dipungkiri memang perkembangan politik di mesir sewaktu-waktu bisa meledak.

Lakilaki sederhana melanjutkan pembicaraan dengan memintakan do’a kepada sang ‘alim atas syahidnya Ustadz Abu Bakar Mustafa Khayal, seorang pejuang syari’ah dan khilafah mukhlish ditangan tandzim ad daulah (ISIS) dengan cara yang keji lagi dzalim.  Singkat lakilaki sederhana menjelaskan proses kematian Asy-Syahid.  Sang ‘alim kemudian bertanya.

“Apa yang kemudian dilakukan oleh rekan-rekan satu jama’ah dengan Asy Syahid ?” mimik beliau serius mengharapkan informasi

Lakilaki sederhana menjelaskan bahwa rekan-rekan Asy-Syahid dan jama’ah tetap berpegang teguh pada metode Rasulullah SAW dalam menegakkan khilafah : dengan pemikiran (fikroh), siyasah (politik) dan La Madiyah (tanpa kekerasan).  Sang ‘alim manggut-manggut membenarkan dan menimpali bahwa memang Rasulullah dan para sahabat diperintahkan menggunakan kekuatan fisik tatkala daulah Madinah telah berdiri.  Lakilaki sederhana kemudian memaparkan tentang hakekat ISIS sebagai tandzim askari, deklarasi khilafah ISIS, dan letak kekeliruan ISIS dalam pembentukan khlafah, dan harapan agar sang ‘alim turut serta memperjuangkan khilafah sesuai metode kenabian.  Beliau diam, sambil mengisap rokok yang telah dihabiskannya beberapa batang menemani lakilaki sederhana.   Lakilaki sederhana berdo’a semoga Allah SWT memberikan rahmatNya sehingga penjelasan dan hubungan baik selama ini menjadikan beliau berada di garda terdepan perjuangan syari’ah dan khilafah.


Tak terasa adzan dzuhur berkumandang.  Lakilaki sederhana pamit diantar sang ‘alim menuju pintu.

0 komentar:

Posting Komentar